Tidak Semua Pilihanmu Itu Pilihanku
Orang tua kita dari kecil sampai dewasa ini memang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mulai dari membelikan yang terbaik yang bisa mereka berikan untuk anaknya, memfasilitasi anak-anak mereka agar anaknya dapat hidup nyaman dan aman tanpa memandang apakah mereka itu lelah atau tidak. Mereka tak pernah mengeluh ataupun marah-marah saat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan termasuk kita sebagai anaknya. Namun, disatu sisi terkadang orang tua terlalu memaksakan kehendaknya untuk anak-anaknya.
Pemaksaan itu terjadi tanpa mereka sadari, dalam hal ini anaklah yang harus menerima dengan paksa apa yang dikehendaki oleh orang tua mereka. Hal-hal pemaksaan tersebut yaitu orang tua terlalu memaksakan pilihan hidup anaknya untuk memilih fakultas mereka inginkan, usut punya usut sih kebanyakan hal ini terjadi karena keinginan atau ambisi orang tua di masa lalu yang belum terwujud dan mereka menginginkan anak-anak mereka untuk mewujudkannya. Saudaraku juga pernah mengalami hal ini, orang tuanya ingin sekali dia menjadi seorang dokter, bagaimanapun caranya ia harus menjadi seorang dokter. Padahal, saat tes pshikologi, ia disarankan untuk menjadi Sarjana Hukum atau Sarjana Pshikologi. Memang benar juga hasil tes pshikologi, saat itu ia benar-benar lolos tes SNMPTN, namun sayang beribu sayang orang tuanya masih ngotot ingin menjadikan ia seorang dokter. Ya bagaimana lagi, ridho Allah itu tergantung ridho orang tua dan juga ia tidak ingin menjadi anak durhaka sehingga ia mengikuti tes lagi di beberapa universitas luar negeri (maksudnya universitas swasta.. hehe). Beberapa gagal, dan ada satu universitas luar negeri tersebut yang menerima ia menjadi mahasiswa kedokteran di sana. Good luck sist!! Namun, sepertiya dia keteteran, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, ia melanjutkan studinya sampai sekarang karena baktinya kepada orang tuanya. Akhir-akhir ini, mereka (orang tuanya) agak sadar setelah anaknya masuk rumah sakit dan "ngomong nglantur ngalor ngidul"... :'(
Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita nyata tersebut adalah jangan jadikan pilihan anak sebagai pilihan nomor #2, #3, atau nomor kesekian, jadikan pilihan anak sebagai prioritas. Jalan hidup anak yang menjalani bukan orang tua tapi mereka sendiri. Orang tua berhak mengontrol dan mengatur tapi bukan mengatur sesuka-suka meraka, namun dengan jalan diskusi. Insyaallah hasilnya bisa memberikan jalan keluar yang membuat kedua belah pikak senang. Saya rasa cukup sekian curcolnya, semoga sepenggal cerita tersebut bisa bermanfaat bagi kita semua. Amiin ^_^ (fep)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar