Seperti Krupuk
Seperti kerupuk aneh ya judulnya. Ini cerita beneran kayak krupuk “kriuk-kriuk”. Ringan tapi penuh resiko.. huehehe alay ya. Langsung ja ke topik deh..
Sedikit curhat ya, kemarin aku menghadiri acara pernikahan sodaraku. Semua saudara dan kerabat datang dan posisiku saat itu duduk di antara bude dan tante. Tiba-tiba bude bertanya kepada ku,”Pacarnya anak mana ka?” Aku menjawab,”gak punya bude.” (sambil senyum dan malu-malu). Tapi bude malah gak percaya. Akhirnya terjadi percakapan kecil seperti ini:
Bude1 : mau dicariin bude ka?
Aq : Gak usah bude (ekspresi bingung dan gak nyaman tapi tetap senyum)
Bude1 : Udah semester 8 masak gak punya pacar?
Aq : Gak punya bude *menegaskan
Bude1 : Ati2 lho, kalau udah kerja natar carinya malah sulit.
Aq : Lho kok bisa bude? *sambil mikir bingung
Bude1 : Ya bisa lah, kan kalau udah kerja lebih mentingin karir biasanya. Bisa sih cari tapi pasti kamu nya pemilih banget
Aq : -___-“
Dan alhamdulilah percakapan kecil itu berakhir ketika seorang sodara lain memotong pembicaraan kami karena suatu keperluan mendesak. Syukurlah, langsung saja aku pergi ke lantai atas dan ngobrol dengan sodaraku, sehingga bude gak akan mengangguku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bingung aku menjawabnya untuk saat ini :)
Dari pertanyaan-pertanyaan itu aku bertanya pada diriku sendiri,”Apakah harus aku mengambil langkah untuk pacaran dalam waktu dekat?” Jujur aku belum berani. Pengalaman pertamaku yang disebut orang-orang sebagai “masa pacaran” itu ketika aku SMP kelas 2, berawal dari pertemuan bersama teman-teman sodaraku di rumah bude yang lain (bude2). Di sana aku bertemu untuk pertama kalinya, dan itu pun hanya teman. Satu minggu setelah pertemuan itu, ada SMS dari nomor baru muncul di Hpku. Aku buka dan aku membalasnya, ternyata dia teman sodaraku. Tiba-tiba dia bilang suka denganku saat awal kita bertemu. Saat itu aku tak pikir panjang, dan aku menerimanya karena ingin merasakan seperti apa sih pacaran. Namun, hal itu tak berjalan cukup lama, hanya 2 minggu saja kita memutuskan untuk berteman saja tanpa ada pertemuan lagi (hanya 1 kali pertemuan ketika di rumah bude2 saja). Hal itu aku maklumi karena aku hanya mencoba menjadi orang yang bukan diriku karena hati tak kan pernah menipu untuk tidak melakukan apa yang orang-orang agungkan yaitu pacaran, aku lebih asik dengan duniaku bersama teman-teman dibanding keluar dengannya. Untuk kemarin dan saat ini aku tidak mau kalau aku disebut pernah pacaran, karena dia hanya temanku saja tidak lebih. Aku dan dia juga saling komunikasi dan menjalin hubungan baik, dia punya teman spesial baru pun tak ada rasa cemburu, saling menyapanya, dan tak pernah aku sekali saja stalking tentang dia karena dari pertama bertemu sampai sekarang aku dan dia hanya berteman. Ada orang yang dari dulu sampai sekarang aku menyimpannya untuk diriku sendiri. Kepribadiannya, kepintarannya, ketegasannya, dan kesederhanaannya membuat aku terpikat. Hanya bertegur sapa saja aku sudah senang, pertemuan saat masa biru putih itu tak pernah aku lupakan. Dia yang mengajarkan arti hitam di atas putih (hanya aku dan dia yang tahu) ^__^
Kenangan indah, saat itu dan aku tak mengira kita akan bertemu lagi di perlombaan antar SMA karena kita berbeda SMA. Di sana kutemui dia, dan kita hanya berbicara ringan. Saat itu aku hanya menganggap dia sebagai kakak manis yang baik dan sebaliknya dia hanya menganggapku sebagai adik lincah yang periang. Memang skenarioNYA begitu indah, eitss asal kita sebagai manusia jangan lupa harus tetap selalu bersyukur dan tidak lupa beristighfar meminta kepadaNYA. SkenarioNYA lah yang membuat kita, dan mungkin Anda bertemu satu sama lain di suatu tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Untuk masalah jodoh, tenang saja Allah sudah mengaturnya. Jangan panik ya kalau sekarang masih singgle... Hehehe. Kalau ada yang masih galau pengen pecaran atau gak coba ja deh baca bukunya Ust.Felix Y Siauw yang judulnya “Udah Putusin Aja!” *recommended (bukn promosi lho ya) hehehe. (fep)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar