Bulan Juli merupakan bulan urutan ke-7 di kalender Masehi.
Namun, setiap bulan ini aku mendapat hadiah dari Allah SWT dalam bentuk yang
berbeda-beda. Ada duka dan bahagia, semua sudah menjadi ketetapan-NYA. Aku
sebagai manusia hanya bisa berdoa, bertawakal, dan percaya pasti semua keputusan-NYA
pasti indah untuk umat-NYA yang taat.
Dua puluh tiga tahun lalu tepat di pertengahan bulan Juli,
Allah memberikan anugerah terindah untuk ibu dan bapakku setelah beberapa tahun
menunggu anugerah itu akhirnya aku muncul meramaikan suasana keluarga kecil
ini. Alhamdulillah sampai sekarang kami masih diberi panjang umur dan kesehatan
oleh-NYA. Kemudian di bulan Juli tahun 2010, ketika aku akan menjadi mahasiswa,
nenekku yang paling aku sayang diambil oleh-NYA. Saat itu aku masih belum
mengerti mengapa orang yang paling aku sayang harus diambil disaat aku
berencana menutup auratku dengan hijab. Terlintas pertanyaan dalam benakku, “Apa
mungkin Allah membenciku?.” Namun, pertanyaan itu sudah terbantahkan seiring
berjalannya waktu. Itu memang sudah takdir yang Allah tetapkan seperti rukun
iman yang ke-6. Di bulan Juli juga di tahun yang berbeda, aku mendapat anugerah
dariNYA kuku jempol kaki yang harus dilepas karena tertimpa pompa. Ya ini memang
anugerah yang penuh hikmah, hikmahnya yaitu kita
sebagai menusia harus lebih bersyukur dengan apa yang sudah kita punya dan
menjaga dengan baik apa yang sudah diberikan oleh-NYA untuk kita (umatnya).
Bulan Juli tahun 2013, aku dan teman-temanku melaksanakan
Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang mengharuskan kita tinggal di desa dan
mengentaskan masalah kesehatan dengan peran serta masyarakat juga tentunya. Di
desa tersebut, kami makin bersyukur dengan keadaan kita dimana kita masih bisa
makan makanan bergizi dengan akses yang mudah. Sementara, di salah satu dusun
di desa tersebut harus berkilo-kilometer mendapatkan makanan seperti yang kita
makan di rumah. Selain itu, jika di rumah kita sudah bisa menikmati MCK yang
bersih dan layak, hal ini tidak berlaku untuk masyarakat yang tinggal di sana.
Hikmahnya kita harus selalu bersyukur
setiap hari, bersyukur lebih lagi tiap hari. Jangan menganggap kita itu tidak
disayang oleh Allah yang sudah memberi rezeki kepada umat-NYA.
Di tahun 2014 ini di bulan yang sama, tepatnya tanggal 5
Juli kemarin aku mendapatkan kabar yang membuat aku tak percaya. Salah satu
sahabatku Lisa menelponku dan memberi kabar tak mengenakkan itu. “Mbah udah
lihat WhatsApp? Kata teman-teman Lita
meninggal dunia karena kecelakaan,” kata Lisa. Saat itu, rasanya seperti mimpi
aku takut itu kabar berita yang benar tetapi aku masih percaya mungkin itu
hanya kabar burung. Beberapa menit kemudian, aku dan Lisa beserta adik kosnya
berangkat menuju RS Subandi. Di sana kami bingung mau ke bagian apa. Kami
menelepon nomor teman-teman kami, tetapi tak satupun telepon kami diangkat.
Namun, kemudian kami berpapasan dengan salah satu teman kami di pintu masuk dan
dia membenarkan berita tersebut. Air mata tak tertahankan, kami bergegas ke
kamar mayat. Saat kami menuju ke sana, kami berpapasan dengan teman-teman kami
lagi dan berkata almarhum sudah dimasukkan di ambulance dan menuju ke rumahnya. Kami kembali ke depan dan
berkumpul dengan teman lainnya, tepat di belakang kami berkumpul terdapat mobil
polisi yang membawa motor yang penyok. Aku berpikir apa itu motor yang dikendarainya?
Jujur aku masih tak percaya kalau itu dia. Sebelum kejadian di Sabtu malam yang
menyedihkan ini, aku, dan teman-temanku termasuk almarhum bercanda bersama dan
bercerita. Kami begitu bahagia tak ada yeng pernah berpikir itu adalah hari terakhirnya
dengan kami. Padahal saat itu dia bahagia sekali karena proposal skripsinya
sudah diacc oleh dosen pembimbingnya, dan minggu ini kalau jadi dia (almarhum) akan
melaksanakan seminar proposal skripsinya. Namun, Allah punya skenario lain
untukmu sahabat. Semoga kamu tenang di alam sana, amal ibadahmu diterima oleh
Allah SWT, dosa-dosamu diampuni, dan keluarga yang kamu tinggalkan sabar dan tabah
menjalani takdir Allah ini. Hal yang masih membuat dadaku sesak ketika Lisa (tante)
dan Ratri bercerita tentang kamu yang bersemangat ingin mempersiapan rencana
kejutan di hari ulang tahunku jauh-jauh hari. Rasanya aku tak pantas menerima
itu, karena saat hari ulang tahunmu saja aku selalu telat untuk mengucapkannya.
Semoga kamu masuk surga mbah Lita (almarhum). Selamat jalan sahabatku Lita
Deristya (panggilan akrab “Mbah”). Sabarmu, pintarmu, tawamu, tulisanmu,
komentarmu, ide kreatifmu, nasihat dan wejanganmu akan selalu aku rindukan. Tahun
ini terakhir kita main bulutangkis di dekan cup, alhamdulillah atas kerja keras
kita, 3 kali kemenangan masih kita raih. Satu hal lagi, aku masih memasang foto
kita berempat dan masih memasang jam dinding dengan foto-foto kita yang
tertempel di dalamnya. Selamat jalan sahabatku, semoga kamu tenang di sana :’)
(Lita Deristya, 4 April 1993-5 Juli 2014). (fep)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar